Jumat, 15 Maret 2013
Seharmonis apa pun hubungan Anda
dengan pasangan, suatu ketika pasti akan terjadi perdebatan maupun adu
argumen yang tak tertahankan. Agar dapat berbaikan, salah satu pihak
harus mengalah. Lebih baik lagi apabila yang mengalah ini mau mengakui
kesalahannya dengan tulus, bukannya malah memancing kemarahan dan
pertengkaran lainnya.
Menurut Laurie Puhn, pengacara dan mediator untuk masalah pernikahan
sekaligus penulis buku Fight Less, Love More: 5-Minute Conversations to
Change Your Relationship Without Blowing Up or Giving In, sebagian
pasangan sulit mengutarakan permintaan maaf yang tulus. Padahal, di
dalam hati kecilnya mereka sangat menyesal. Untuk itu, ia menganjurkan
Anda menguasai empat teknik berikut ini, agar pertengkaran bisa
diselesaikan tanpa harus menciptakan yang lainnya.
1. Beri kesan kesalahan Anda lebih besar daripada yang dilakukan penjahat mana pun.
Hindari meminta maaf disertai pembelaan diri yang menyatakan bahwa yang Anda perbuat itu sebenarnya bukan masalah besar. Atau mengatakan bahwa Anda tidak bermaksud melakukannya serta menambahkan pernyataan bahwa pasangan saja yang bersikap berlebihan. Ini hanya akan memancing argumentasi selanjutnya, bukannya penyelesaian masalah. Lebih baik, cukup katakan bahwa Anda sadar telah melakukan kesalahan besar. Atau menyatakan bahwa seharusnya Anda tidak melakukan hal itu.
2. Sertai permintaan maaf dengan alasan mengapa Anda berbuat salah.
Jika Anda hanya berkata, “Maaf ya, aku lupa kita sudah janji mau nonton”, kalimat ini kesannya menggantung dan bisa membuka ruang untuk insiden saling menyalahkan berikutnya. Sebaiknya kalau Anda benar-benar ingin minta maaf, jelaskanlah alasan Anda. Kenapa Anda sampai lupa janji mau nonton dengan pasangan, misalnya karena Anda sudah terlanjur pergi bersama teman dan tidak bisa pulang begitu saja.
3. Hindari menambahkan kata “tapi” setelah meminta maaf.
Kata yang satu ini dapat menghancurkan seluruh kalimat tulus yang sebelumnya Anda ucapkan. Sebab, kata “tapi” menyiratkan bahwa Anda sebenarnya tidak merasa sebegitu bersalahnya dan menganggap pasangan juga memiliki kesalahan yang sama beratnya.
4. Berikan kata maaf, bukan hadiah.
Tidak ada yang dapat menggantikan kata-kata tulus dalam meminta maaf. Tidak ada gunanya merayu pasangan dengan membelikan benda kesayangannya. Bahkan tak jarang barang pemberian Anda ini dianggap sebagai tanda bahwa Anda tidak paham di mana letak kesalahan, yang penting minta maaf dan selesai. Jika memang Anda ingin memberi hadiah, lakukanlah nanti setelah perdamaian telah tercipta. Ini akan lebih dihargai oleh pasangan.
1. Beri kesan kesalahan Anda lebih besar daripada yang dilakukan penjahat mana pun.
Hindari meminta maaf disertai pembelaan diri yang menyatakan bahwa yang Anda perbuat itu sebenarnya bukan masalah besar. Atau mengatakan bahwa Anda tidak bermaksud melakukannya serta menambahkan pernyataan bahwa pasangan saja yang bersikap berlebihan. Ini hanya akan memancing argumentasi selanjutnya, bukannya penyelesaian masalah. Lebih baik, cukup katakan bahwa Anda sadar telah melakukan kesalahan besar. Atau menyatakan bahwa seharusnya Anda tidak melakukan hal itu.
2. Sertai permintaan maaf dengan alasan mengapa Anda berbuat salah.
Jika Anda hanya berkata, “Maaf ya, aku lupa kita sudah janji mau nonton”, kalimat ini kesannya menggantung dan bisa membuka ruang untuk insiden saling menyalahkan berikutnya. Sebaiknya kalau Anda benar-benar ingin minta maaf, jelaskanlah alasan Anda. Kenapa Anda sampai lupa janji mau nonton dengan pasangan, misalnya karena Anda sudah terlanjur pergi bersama teman dan tidak bisa pulang begitu saja.
3. Hindari menambahkan kata “tapi” setelah meminta maaf.
Kata yang satu ini dapat menghancurkan seluruh kalimat tulus yang sebelumnya Anda ucapkan. Sebab, kata “tapi” menyiratkan bahwa Anda sebenarnya tidak merasa sebegitu bersalahnya dan menganggap pasangan juga memiliki kesalahan yang sama beratnya.
4. Berikan kata maaf, bukan hadiah.
Tidak ada yang dapat menggantikan kata-kata tulus dalam meminta maaf. Tidak ada gunanya merayu pasangan dengan membelikan benda kesayangannya. Bahkan tak jarang barang pemberian Anda ini dianggap sebagai tanda bahwa Anda tidak paham di mana letak kesalahan, yang penting minta maaf dan selesai. Jika memang Anda ingin memberi hadiah, lakukanlah nanti setelah perdamaian telah tercipta. Ini akan lebih dihargai oleh pasangan.
Web Pribadi Raharja. Diberdayakan oleh Blogger.
Posting Komentar