Jumat, 24 Agustus 2012
Umar Ibnul Khathab dijuluki singa padang pasir, kecepatan pedangnya bagaikan kilat yang membelah angkasa sehingga sangat ditakuti oleh pendududk kota mekah. Rasullalah sampai pernah berdoa, "andai kata allah berkenan, Umar Bin Khathab untuk segera masuk Islam diantara orang-orang yang memusuhinya".
Semasa sebelum memeluk agama Islam, Umar Bin Khathab merupakan seorang yang kejam. Banyak darah yang dianggap musuh dihidupnya dan banyak nyawa yang melayang diujung pedanganya. Bahkan begitu kejamnya saat itu, anak perempuannya sendiri yang masih kecil dikubur hidup-hidup demi memelihra wibawanya sebagai pemuka suku Quraisy yang terpandang.
Umar adalah seorang saudagar yang berhasil, ia putra Nufail dari bani Adi, sebuah suku arab yang sangat terpandang. umar terkenal sangat gagah perkasa, garang dan kejam dan ia juga sangat teguh pada keyakinan yang dianutnya serta ia rela berkorban apa saja, demi menjaga martabatnya selaku orang Quraisy dan sesuai dengan keercayaan Jahilliah.
Umar Bin Khathab masuk Islam pada tahun ke-5 Bi'tsah atau lima tahun setelah Rasullalh Menyerukan da'wahnya, dan ia memperoleh gelar Al Faruq dari nabi, artinya orang yang mampu memisahkan kebenaran dan kebatilan.
Peristiwa Umar Masuk Kedalam Agama Islam sangat menarik, yang menceminkan kepribadian Umar yang jujur dan berhati lembut meskipun ia memiliki sifat yang kasar dan fisiknya kelihatan keras. ada yang berpendapat bahwa keislaman Umar terjadi karena Mu'jizat Al-Qur'an.
Kejadian yang mengharukan itu berlangsung di Mekah Al-Mukarramah.kekejaman Umar ketika itu berada pada puncaknya kemana-mana ia selalu menghunus pedangnya untuk membunuh Rasullulah. seluruh warga kota sangat ketakutan, melihat keberingasan Umar.
Suatu ketika umar berjalan dibawah terik matahari yang menyengat, ia memergoki Laila dan suaminya Amir Bin Rabiah, yang hendak menaiki untanya untuk pergi ke negri habsyi.
"Heiii hendak kemana kalian ? "Teriak Umar.
"Engkau telah menganiaya kami dan seluruh kawan-kawan yang mengikuti seruan Muhammad dengan kejam. Sekarang kami ingin mengungsi ke bumi Allah SWT. ke tempat dimana kami dapat beribadah dengan tenang tanpa terganggu lagi" Jawab Laila dengan pasrah.
"Hmmmm, mudah-mudahan Allah mu yang tak kelihatan itu menyertai kalian" Sahut Umar dengan sebal, kemudian ia pergi sambil mulutnya menyumpah-nyumpah.
dipersimpangan jalan Umar bertemu dengan Sa'ad Bin Abi Waqash, salah satu sahabat dekatnya.
"Mau kemana kau, anak khathab, mengapa kau menghunus pedangmu ?" Sapa Sa'ad Bin Abi Waqash.
"Aku hendak mencari Muhammad, sibudak celaka itu akan kucincang tubuhnya dengan pedangku ini sampai mati. karna si bodoh itu telah berani mendirikan agama baru sehingga terputuslah hubungan persaudaraan kita. orang-orang kita dianggapnya tolol, berhala-berhala kita dicaci maki, agama nenek moyang kita dicemoohnya, dan masih bertumpuk-tumpuk lagi kejahatannya akan kuhabisi nyawa si bedebah laknat itu !"
"Ahhh Umar ! Kau ini lebih kecil dan lebih hina dari Muhammad" Kata Sa'ad, seperti tak melihat wajah Umar yang merah padam menahan amarah. "Bagaimana kau akan membunuhnya ? kau kira semua keturunan keluarga Abdul Muthalib akan diam berpangku tangan. mereka pasti akan memburu dan membunuhmu !"
sejenak Umar Melongo, ia tak menyangka bahwa sabahatnya akan berkata seperti itu pada dirinya. dengan kasar kemudian ia membentak
"Rupanya kau sekarang kau telah berani kepadaku, Sa'ad ! ini pertanda kau telah berganti agama. benar apa yang ku katakan ?"
Sa'ad Bin Abi Waqash diam hanya menganggunk
"Kurang ajar!'' Teiak Umar dengan Gusar. "Jadi kau telah mengikuti ajakan Muhammad itu ? Hmmm dengan demikian antara kita Hallal untuk saling menumpahkan darah, Sa'ad akan ku habisi nyawamu sekarang juga''
"Haii Umar ! kepada oang lain dan sahabatmu kau berani bersifat kejam tetapi kepada adik iparmu kau diam saja !" Kata Sa'ad seraya mencabut pedangnya untuk menghadapi serangan Umar.
"Apa yang kau katakan ?" Teriak Umar memelototkan matanya kepada Sa'ad. "Apakah Fatimah dan suaminya menjadi pengikut Muhammad ?".
"Apakah kau berpura-pura tidak tahu, atau memang kau tahu bahwa mereka telah lama menjadi pengikut Muhammad yang taat ?".
"Kurang ajar !" Geletuk gigi Umar menahan geram, tak disangka adik dan suaminya telah memeluk Islam. "Akan ku bunuh mereka berdua. akan ku potong kepala mereka !"
Dengan cepat Umar meninggalkan Sa'ad untuk menuju rumah adiknya dengan masih menghunus pedangnya. Didobraknya pintu rumah Fatimah dengan keras, yang saat itu sedang bersama suaminya, Sa'id Bin Za'id tengah belajar Al-Qur'an dari Khabab Bin Art, bekas budak Umar sendiri.
Jika tiba-tiba ada geledek, barangkali tidaklah sekaget Fatimah dan suaminya serta Khabab saat itu. mereka sangat ketakutan dengan kedatangan Umar yang nampak terlihat marah-marah.
"Kudengar kau dan suamimu telah bertukar Agama. Ku harap berita itu tak benar, Hai Fatimah !" Tanya Umar dengan nada tinggi.
Fatimah dan suaminya hanya diam dan tak menjawab, melihat hal itu Umar semakin melonjak darahnya. Ia melompat ke arah Sa'id Bin Za'id, Dipukulnya suami adiknya itu hingga terjerembab tak sampai disitu Umar lalu menendang perutnya berkali-kali seperti kesetanan.
Fatimah yang selama ini sangat menghormati kakaknya, melihat hal itu spontan ia menerjang ke arah kakaknya, namun, segera tangan Umar menampar mukanya. Darah menetes dari sudut bibir Fatimah, tapi seperti tak dirasakannya ia membusungkan dadanya dan berkata :
"Haaiii, seteru Allah. Bunuhlah kami ! kami adalah pengikut Muhammad, Kami tak gentar sedikitpun menghadapi kematian silahkan kau aniaya diri kami sepuasnya, tapi seujung rambutpun kami tak akan berbalik langkah . Kami tetap mengikuti ajaran Muhammad, yang menjadi nabi Allah, sampai akhir hayat kami."
Mendengar ucapan adik perempuannya yang sangat berani dan penuh keteguhan, hati Umar bergetar. Ia sangat heran melihat sikap adiknya saat ini. Padahal biasanya, adik yang di sayanginya itu begitu patuh dan selalu mendengar apa yang di ucapkanya tanpa berani membantah. Tetapi hari ini ia telah berubah. Apalagi ia melihat bibir Fatimah telah berlumuran darah, hatinya menjadi luluh, seakan menyesal apa yang telah di perbuatnya.
Perlahan Umar menolong adik iparnya, Sa'id bin Zaid, untuk berdiri dan membantunya duduk di kursi.
Saat Umar sedang bimbang, tak tahu apa yang sedang di lakukan, ia melihat lembaran kilit kambing yang sedang di genggam oleh Fatimah.
"Fatimahh, apa yang kau pegang itu. Coba kau bawa kemari aku ingin melihatnya sebentar." kata Umar.
"Tidak boleh! kau adalah seteru Allah, kau tidak boleh melihatnya. Kau pasti akan merobek-robeknya!" Jawab Fatimah dengan ketus.
''Aku bersumpah tidak akan merusknya. Jika kau tidak mau memperlihatkannya padaku, coba kau bacakan untuku."
Perlahan-lahan Fatimah membaca lembaran Al-qur'an surat Thaha ayat 1-8. Dengan penuh perhatian Umar mendengarkanya, hatinya begitu terpesona oleh keagungan bahasa dan keindahan isi ayat yang dikumandangkan adiknya. Ia benar-benar terbuat. "Thaha. Kami tidak turunkan Al-qur'an ini kepadamu agar engkau menjadi berat, tetapi sebagai peringatan bagi orang-orang yang takut. Diturukan oleh Allah yang menciptakan langit dan bumi. Tuhan yang maha pemurah, yang bersemayam diatas Arasy. Kepunyaannyalah semua yang ada dilangit, semua yang ada di bumi dan semua yang terdapat diantara keduannya, serta semua yang terpendam dibawah tanah. Jika kau merasakan ucapanmu maka, sesunggunya dia mengetahui rahasia dan semua yang tersembunyi. Ialah Allah, tiada tuhan selain dia. yang memiliki nama-nama sempurna"
Tergetar hati Umar. Singa padang pasir itu lunglai sekujur tubuhnya, dan menetes air matanya. Mulutnya yang biasanya mencaci dan menggumpat, saat itu ia bergumam dengan ucapan penuh kekaguman.
"Ohh, betapa indah dan mulianya."
Dan kemudian ia berteriak dengan lantang "Asyhadu alla illaaha illallaha, wa asyhadu anna muhammad rasulullah." kemudia ia berpaling ke arah Fatimah. "Diamana Muhammad sekarang ? aku harus bertemu dengan nya. aku harus berikrar dihadapannya."
Melihat keadaanya saat itu menjadi berbalik, Khabab yang sejak itu menggigil ketakutan, sekarang ia menjawab, "Beliau berada dirumah Al Arqam, Beliau sedang berdakwah."
"Diaman Rumah Al Arqam ?" Tanya Umar.
"Dikampung shafa."
Umar bin Khathab dengan segera keluar rumah adiknya masih dengan pedang terhunus. Kali ini bukan untuk membunuh Rasullullah, melainkan untuk melindungi keselamatannya.
Sejak itu Umar memeluk agama Islam. Hal itu membuat sahabat-sahabatnya yang dulu semasa masih kafir, menjadi segan untuk menggangu Rasullullah.
Related Posts :
- Back to Home »
- Artikel Islami , Para Pejuang Islam »
- Kisah Umar Bin Khathab "Al Faruq Singa Padang Pasir"
Web Pribadi Raharja. Diberdayakan oleh Blogger.
Posting Komentar